Bakat yang Terkubur

ImageOleh : Ust. Abu Umar Abdillah

Penulis mengenal banyak teman di sekolah dahulu. Sebagian mereka membuat penulis takjub karena kemampuan mereka dalam menghafal, memahami pelajaran dan kecerdasan. Puluhan tahun berlalu, dan tatkala Allah pertemukan kembali dengan sebagian mereka, serasa hilang ‘kehebatan’ yang dahulu pernah mereka miliki.

Ada yang kondisi pengetahuannya relatif tak berkembang setelah berselang sekian lama. Bahkan tak jarang yang kecerdasannya justru menyusut, seakan potensi ilmunya terkubur begitu saja tanpa bekas.

Tanpa sadar angan-angan penulispun melambung, mengandaikan sekiranya dahulu si fulan itu mengoptimalkan potensi kecerdasan yang Allah anugerahkan kepada mereka. Teringat masa kecil Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika seorang ulama dari Suriah sengaja datang ke Damaskus untuk melihat Ibnu Taimiyah kecil. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, iapun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata, “Jika anak ini hidup hingga dewasa, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya.” Prediksi itu benar adanya, beliau menjadi ulama besar, dan menjadi rujukan bagi kaum muslimin di zamannya dan sesudahnya.

Teringat juga masa kecil Imam Nawawi, yang telah tampak bibit-bibit ‘kehebatannya’ sejak kecil. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan tidak suka bermain. Pernah suatu ketika ia dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Ia lebih suka menghafalkan Al-Qur’an daripada memenuhi ajakan teman-temannya. Ketika Syeikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi, salah satu ulama di zamannya memperhatikan keadaan an-Nawawi kecil, ia pun mendatangi orang tuanya, berpesan bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Dan Allah takdirkan prediksi itu menjadi kenyataan.

Hal itu dikarenakan mereka menyambut potensi yang Allah berikan tersebut dengan rasa syukur. Mereka tindaklanjuti dengan memupuk ilmu, menyuburkan dan menempuh segala hal yang bisa menyebabkan ilmu berkembang dan berbuah. Seperti Imam an-Nawawi yang di masa mudanya menghadiri 12 majlis ilmu setiap harinya. Maka bertemulah antara bakat dengan tekad, melahirkan pengetahuan dan karya-karya amal yang menakjubkan.

Meskipun tidak sehebat Ibnu Taimiyah ataupun Imam an-Nawawi, di kalangan barisan para penuntut ilmu syar’i, kita juga sering mendapatkan orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang bagus, kecerdasan yang lebih, yang membuat mereka sebenarnya pantas mendapat kemuliaan ilmu. Hanya saja cita-cita mereka yang rendah menghancurkan anugerah tersebut, menghilangkan eloknya keunggulan mereka. Mereka merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, tidak suka membaca dan menelaah, malas menghadiri majlis ilmu dan terkungkung oleh aktivitas yang tidak mendukung bertambahnya pengetahuan maupun amal kebaikan. Akhirnya, bakat mereka terkubur.

Mereka layak untuk dikasihani, memiliki potensi yang besar, namun tidak mau mengembangkan potensi diri. Ini mengingatkan kita akan perkataan Al-Farra’ rahimahullah, “Tidaklah aku menaruh belas kasihan pada seseorang melebihi rasa belas kasihanku kepada dua orang; Seorang yang menuntut ilmu, namun dia tidak mempunyai pemahaman, dan seorang yang paham tetapi tidak mencarinya. Dan aku sungguh heran dengan orang yang lapang untuk menuntut ilmu tetapi dia tidak belajar.” (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, 1/103)

Adapun orang yang pertama, jika memang ia telah bersungguh-sungguh mengusahakannya, tiada cela baginya. Karena ilmu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Bisa jadi Allah membuka pintu kebaikan untuknya dari sisi yang lain. Dan dia tetap mendapatkan pahala sesuai dengan jerih payahnya. Rasa kasihan terhadap tipe pertama ini hanya dari sisi kauniyah, yang bersifat alami. Kita merasa kasihan karena sudah bersungguh-sungguh mencari, namun belum mendapatkan. Tapi secara syar’i, ia sudah menjalankan kewajiban, jerih payahnya tetap terpuji.

Yang paling disayangkan adalah tipe orang kedua. Orang yang telah diberi potensi lebih oleh Allah, namun ia sia-siakan begitu saja. Betapa cepatnya mereka melepaskan potensi ini dan menghilangkan berkah waktu-waktu mereka. Hal itu terjadi karena kufur nikmat. Dan kufur nikmat itulah yang menyebabkan nikmat itu lenyap. Bukankah potensi pendengaran, penglihatan dan hati yang Allah berikan kepada kita harus kita syukuri? Dan di antara cara mensyukurinya adalah menggunakannya untuk memperbanyak pengetahuan yang tadinya belum tahu menjadi tahu. Allah berfirman,

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Banyak faktor yang memicu berpalingnya mereka dari nikmat kecerdasan terus berproses. Alasan sibuk bekerja, ingin santai dan berleha-leha, juga kesalahan asumsi bahwa belajar itu hanya sarana untuk mencari pekerjaan. Namun inti dari banyak sebab di atas sekaligus menjadi pemicu yang paling dominan adalah faktor ‘dunuwwul himmah’, rendahnya cita-cita.

Setelah membaca paparan ini, tidak selayaknya kita posisikan diri sebagai orang dengan tipe pertama yang disebutkan oleh al-Farra’. Merasa sebagai orang yang tidak berpotensi dan sudah berjuang secara maksimal. Dengan sikap ini, bisa jadi kita justru membunuh potensi diri, dan masuk dalam kriteria tidak mengenali nikmat apalagi mensyukurinya. Bukankah jenis kecerdasan itu banyak ragamnya?

Maka, bagi yang melihat pada dirinya ada tanda-tanda keunggulan dan kecerdasan, baik secara umum maupun khusus, tak selayaknya berpaling dari ilmu. Atau dia akan mengenyam kerugian yang besar. Seperti yang dikatakan Imam asy-Syafi’i, “Barangsiapa yang tidak pernah merasakan rasa pahitnya mencari ilmu, niscaya akan mengenyam pahitnya menjadi orang bodoh sepanjang hayatnya.” Wallahu a’lam.

(*Dikutip dari artikel Bakat yang Terkubur, Majalah Ar-Risalah edisi Maret 2012)