Perang Sabil di Serambi Makkah

ImageAmy Syifa – Serambi Makkah sebuah julukan untuk provinsi yang berada di utara pulau Sumatera. Provinsi paling barat Negara Indonesia ini bernama Aceh. Untuk saat ini Aceh merupakan Daerah Istimewa yang mendapatkan hak otonomi khusus untuk melaksanakan syari’at Islam. Aceh banyak menyimpan latar belakang historis pergerakan jihad dalam melawan segala bentuk penjajahan. Sampai-sampai orang Belanda bernama Van de Vier mengatakan, “Orang Aceh dapat dibunuh, tetapi tak dapat ditaklukkan” (Aceh orloog/perang Aceh).

Dahulu, Aceh merupakan sebuah Kerajaan Islam bernama Kerajaan Aceh Darussalam. Pusat pemerintahannya berada di Bandar Aceh Darussalam. Kerajaan ini didirikan Sultan Mughayat Syah pada awal 913 H/1507 M. Dalam sejarah yang panjang, Aceh sejak tahun 1496-1903 mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, membuka pusat-pusat kajian ilmu pengetahuan, memiliki sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, serta menjalin kerja sama dengan Negara lain.

Pada masa kejayaannya, Aceh sudah menjalin hubungan dagang dan diplomatik dengan negara-negara tetangga, Timur Tengah dan Eropa. Antara lain dengan Kerajaan Demak, Kerajaan Pattani, Kerajaan Brunai Darussalam, Turki Utsmani, Inggris dan Belanda.

Bahkan Kerajaan Aceh memiliki hukum sendiri, yakni “Kaneun Meukuta Alam” yang berdasarkan syari’ah Islam. Dengan hukum tersebut rakyat yang bernaung dalam kerajaan Aceh mendapat keadilan hukum. Karena itulah, banyak wilayah penaklukan merasa senang bergabung dengan Aceh. Seandainya tidak ada hasutan dari pihak kolonial, boleh jadi daerah taklukan tidak melepaskan diri dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Ketika kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara sudah ditaklukkan kolonial Belanda, Aceh masih berdaulat sampai akhir abad ke-8. Bangsa kolonial, baik Portugis, Inggris dan Belanda bukannya tidak berambisi menaklukkan Aceh, tetapi mereka gentar kepada keunggulan angkatan laut Aceh yang menguasai perairan Selat Malaka dan Lautan Hindia. Selain itu rakyat Aceh memiliki semangat jihad yang senantiasa membara. Bahkan mereka memiliki slogan “Udep Sare Mate Syahid” berarti hidup mulia atau mati syahid.

Aceh Orloog

Aceh Orloog (Perang Aceh) dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 M. Perang ini dilandasi semangat kolonial Belanda yang membawa misi 3G. Gold keinginan untuk memiliki kekayaan, glory keinginan mempunyai kejayaan dan gospel keinginan untuk menyebarkan agama nasrani. Di samping itu mereka juga punya semangat Perang Salib terhadap Islam.

Semangat 3G dan perang salib dari Belanda ini jelas akan menyulut kebencian dari umat Islam Aceh. Terbukti ketika Kerajaan Protestan Belanda melakukan ekspansi dengan menurunkan 3.000 serdadunya di Banda Aceh tahun 1873. Ekspansi ini langsung mendapat perlawanan dari rakyat Aceh dengan semangat perang Sabil melawan penjajah Belanda. Dampaknya, seperti ditulis M.C. Ricklefs, 80 orang serdadu Belanda mati dan Jenderal Kohler pun menemui ajalnya.

Dalam menghadapi invasi militer Belanda, Sultan Mahmud Syah (1870-1874 M) meningkatkan hubungan diplomatik dengan Negara lain. Sultan Aceh ini, juga memobilisasi para ulama dan rakyat untuk melawan penjajah Belanda. Bak gayung tersambut, seluruh rakyat Aceh menyatakan jihad melawan penjajah Belanda. Mereka terdiri dari kalangan muda, tua maupun janda semua terlibat dalam kancah perjuangan.

Bahkan, para perempuan juga ikut berjihad seperti Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Mutia dan Pocut Meurah Intan. Walaupun mereka berusaha mencurahkan seluruh jiwa dan raga dalam perjuangan. Namun, mereka juga tidak menghilangkan kodrat kewanitaan. Sebagai wanita yang harus mengandung dan melahirkan tetap dijalani dalam sebuah peperangan. Terkadang harus melaluinya dalam kondisi dua peperangan. Kebanyakan mereka berjihad bersama suaminya. Dengan tangan yang kecil mungil lincah memainkan kelewang dan rencong menjadi senjata dahsyat di hadapan lawan, disamping terus menimang bayinya seraya bersenandung semangat perjuangan. Memompakan semangat jihad dengan syair yang indah:

Allah hai do kudaidang

Seulayang blang kaputoh taloe

Beu rayek sinyak rijang-rijang

Jak meuprang bela nanggroe

Timang anakku timang

Layang-layang sawah putus benang

Cepat besar anakku sayang

Pergi berperang bela Negara

Meskipun rakyat Aceh banyak yang melawan, Belanda tetap berusaha melakukan makar untuk bisa menaklukkan Aceh. Belanda menggunakan teori perang yang dikemukakan oleh Carl von Clausewitz dalam On war, tujuan perang adalah disarming the enemy (melucuti senjata musuh). Dengan kata lain, perang bertujuan destruction of the enemy forces (penghancuran potensi lawan) atau enemy’s collapse (keruntuhan lawan).

Teori ini nampaknya diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan cara memutuskan perniagaan kesultanan Aceh dari laut. Selain itu, imperialis protestan Belanda juga melancarkan politik devide and rule (pecah belah untuk dikuasai) dan Belanda juga membuat jalan kereta api sebagai benteng stesel yang berfungsi untuk mempersempit ruang gerak perlawanan dan mempercepat gerakan operasi serdadu Belanda.

Dalam perjalanan peperangan Aceh, Belanda melakukan genosida, pemusnahan terhadap segenap rakyat Aceh anak-anak, muda atau tua, laki-laki atau wanita semua dibantai. Akan tetapi, pembantaian ini tidak menyurutkan semangat jihad mereka. Keberanian mempertahankan kebenaran walaupun sampai gugur sebagai syuhada’ tidak disesali tetapi justru dicari sebagai cita-cita tertinggi. Karena Islam mengajarkan mati dalam menegakkan kebenaran sebagai mati syahid, kematian terhormat, sebaliknya mati kafir membela penjajah kematian yang hina.

Siasat Snouck Horgronje

Dalam rangka mematahkan semangat jihad umat Islam Aceh, Belanda mengirim Cristiaan Snouck Horgronje untuk mempelajari Islam. Pihak Belanda menyadari bahwa perang Aceh sukar untuk ditaklukkan jika hanya mengandalkan kekuatan senjata semata dan keahlian bertempur. Belanda tidak main-main dalam mengutus Snouck Horgronje ini. Bahkan ia belajar langsung ke Makkah dan mengganti namanya dengan Abdul Ghafar. Dengan samaran inilah, ia dapat tinggal di Jeddah, kemudian masuk ke Makkah selama enam bulan.

Setelah selesai belajar di Makkah, Snouck kembali ke Aceh. Snouck dipekerjakan sebagai penasihat kolonial Belanda dalam rangka menaklukkan tempat jajahannya. Antara lain saran Snouck Horgronje: “Yang harus ditakuti pemerintah Belanda bukan Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik. Biasanya dipimpin smallminority yang fanatik yakni ulama yang membaktikan hidupnya terhadap cita-cita panislamisme. Golongan ulama ini lebih berbahaya kalau pengaruhnya meluas kepada petani di desa-desa. Karena itu disarankan supaya pemerintah bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan sebaliknya bertindak tegas terhadap Islam sebagai doktrin politik”.

Saran ini baru terlaksana pada masa Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz. Belanda merangkul para Uleebalang (golongan bangsawan) dan menjadikan para ulama sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Belanda membentuk Pasukan Marsose dan mengutus G.C.E Van Daalen untuk mengejar para ulama dan pejuang Aceh hingga ke pedalaman.

Akhirnya pada Januari tahun 1903 Sultan Muhammad Daus Syah menyerahkan diri kepada Belanda setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Panglima Polem Muhammad Daud, Tuanku Raja Keumala dan Tuanku Mahmud menyusul di tahun yang sama pada bulan September. Perjuangan dilanjutkan oleh ulama keturunan Tengku Chik di Tiro dan berakhir ketika Tengku Mahyidin di Tiro menemui kesyahidannya 1910 di Gunung Halimun.

*Dikutip dari “Perang Sabil di Serambi Makkah”, Majalah An-Najah edisi November 2013