Etika Duduk dalam Majlis

ImageAmy Syifa – Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika kami terlambat menghadiri majelis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami duduk di belakang.” ( As-Silsilah Ash-Shahihah: I/583)

Syaikh Al-Albani rahimahullah menerangkan, “Hadits tersebut mengingatkan salah satu adab majelis pada zaman Nabi yang sering diremehkan orang pada hari ini, bahkan oleh ulama. Yakni apabila seseorang datang belakangan ke sebuah majelis ilmu, ia harus duduk di bagian belakang majelis, meskipun itu di depan pintu. Jika ia mendapati tempat seperti itu, ia harus duduk di situ. Ia tidak boleh maju dengan menyuruh sebagian peserta majelis berdiri. Bukan seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang sombong, dari kalangan pemimpin. Atau orang yang sewenang-wenang, orang yang merasa dirinya syaikh padahal bukan. Sebab perbuatan ini jelas dilarang seperti yang tercantum dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya kemudian ia mendudukinya. Tapi perlebar dan perluaslah (majelis).” (HR. Muslim (5813))

Dalam suatu riwayat ditambahkan, “Adalah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, jika ada seseorang berdiri dari tempat duduknya mempersilakannya, ia tidak mau duduk di tempat tersebut.”(As-Silsilah Ash-Shahihah: I/584)

Terkait hadits:

“Janganlah seseorang berdiri dari tempat duduknya untuk mempersilakan orang lain. Tapi lapangkanlah (majelis) niscaya Allah akan melapangkan untuk kalian.” (As-Silsilah Ash-Shahihah: I/397)

Hadits ini jelas sekali menunjukkan bahwa berdiri dari tempat duduk supaya orang lain menempatinya demi menghormatinya bukan termasuk adab Islami. Semestinya ia melapangkan majelis dengan cara bergeser jika duduknya di tanah (baca: lantai). Namun, jika duduknya di kursi, tak mungkin dilakukan.

Berdiri untuk memberi tempat orang lain adalah menyelisihi arahan Nabi. Karena itu, Ibnu Umar tidak suka kalau ada orang yang berdiri dari tempat duduknya agar kemudian ia (Ibnu Umar) duduk di tempat tersebut. Seperti yang dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari di atas. Ketidaksukaan merupakan hal minimal yang ditunjukkan oleh sabda beliau, “Janganlah seseorang berdiri untuk orang lain….” Ini merupakan bentuk larangan. Dan hukum dalam hadits tersebut adalah pengharaman, bukan makruh (dibenci). Wallahu a’lam. (As-Silsilah Ash-Shahihah: I/400)

*Dikutip dari buku Sunah tapi Dilupakan, Bab Adab, Etika Duduk oleh Sulaiman Al-Khurasyi