Dosa Berbalas Kontan

ImageAmy SyifaSuatu ketika, sahabat Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada tiga tipe manusia yang membuatku terheran-heran, hingga membuatku tertawa. Yaitu, orang yang mengangankan dunia sedangkan kematian selalu mengincarnya, orang yang lalai padahal ia selalu diawasi dan orang yang tertawa terbahak-bahak padahal ia tidak tahu ‘apakah Allah meridhoi atau justru murka kepadanya’. Sedangkan tiga hal yang membuatku selalu sedih, hingga membuatku menangis, yaitu, perpisahan dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya, kengerian saat ditampakkan seluruh amal, dan kondisi saat berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala kelak, sementara aku tidak tahu apakah aku diantar ke surga atau digiring ke neraka.” (Shifatu Shafwah, 1/548)

Kedalaman renungan sahabat Salman sungguh sangat mengagumkan. Betapa banyak orang yang terlena dalam menikmati kehidupannya, dalam menikmati kesuksesannya, namun ia melalaikan kematian yang senantiasa mengintainya.

Tidak jarang, dalam kehidupan sehari-hari, kita dilenakan dengan berbagai macam aktifitas dunia, atau bahkan aktifitas dakwah, sehingga jarang merenungi perjalanan menuju kematian.

Banyak manusia lalai dari pengawasan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia begitu ringan melaksanakan kemaksiatan, sembrono dalam menunaikan kewajiban. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah lalai mengawasinya.

“Dan Allah sekali-kali tidak pernah lalai dari apa yang kalian perbuat.” (Al-Baqarah: 74)

Balasan Senantiasa Mengintai

Satu hal yang selalu dilalaikan, yaitu balasan amal senantiasa mengintai pelakunya. Baik perbuatan baik atau perbuatan buruk. Diantara tipu daya setan adalah menjadikan seorang pelaku dosa merasa telah termaafkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala lantaran tidak adanya balasan atas dosa yang ia kerjakan. Padahal, terkadang hukuman baru diturunkan setelah kurun waktu tertentu.

Sedikit sekali pelaku dosa bebas dari hukuman Allah subhanahu wa ta’ala . Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. An-Nisa’: 123)

Hatta seorang Nabi pun. Nabi Adam ‘alaihissalam telah memakan sesuap makanan, dan kita semua sudah tahu apa yang telah terjadi padanya.

Wahb bin Munabbih menuturkan;

“Allah subhanahu wa ta’ala  menanya Adam ‘alaihissalam , ‘Bukankah Aku telah memilihmu untuk diriKu? Bukankah Aku telah mengizinkanmu tinggal di istanaKu? Bukankah Aku telah menyuruh para malaikat bersujud kepadamu? Tapi kamu kemudian menentang perintahKu dan melupakan janjiKu kepadamu. Demi kebesaranKu, andai Aku memenuhi dunia dengan orang-orang sepertimu yang selalu beribadah kepadaKu dan bertasbih di sepanjang siang-malam, lalu mereka mendurhakai-Ku, pasti Aku akan memposisikan mereka pada posisi pelaku kemaksiatan!”

Jibril lantas melepaskan mahkota dari kepalanya, sementara Mika’il menanggalkan perhiasan pelipisnya, kemudian ia menyeret ubun-ubun Adam dan menurunkannya ke bumi. Adam ‘alaihissalam lantas menangis selama 300 tahun di atas gunung India. Air matanya mengalir di lembah-lembah pegunungannya, lalu ia menumbuhkan pepohonan yang menjadi bahan wewangian kalian ini.” (Hilyah Auliya’, 5/113)

Demikian pula Nabi Dawud ‘alaihissalam, beliau telah melepaskan pandangannya sekali, lalu ia pun dicela dan mesti menangis dalam waktu yang sangat lama, hingga rerumputan tumbuh dari air matanya.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam menerima aduan sekelompok orang yang tengah berselisih. Hawa nafsunya lebih cenderung kepada salah satu pihak, beliau pun lantas disiksa, dan kedudukannya jatuh di mata manusia. Hingga beliau ‘alaihissalam mengiba, “Berilah aku makan!” namun beliau tetap tak diberi makan.

Nabi Ya’kub ‘alaihissalam menyembelih seekor peranakan sapi di depan ibunya, lalu beliau dihukum dengan perpisahan Nabi Yusuf ‘alaihissalam.

Nabi Yusuf ‘alaihissalam dihukum karena bersitan hatinya kepada Zulaikha. Seluruh saudaranya mempunyai 12 anak, sedang beliau sendiri hanya mempunyai 11 anak karena bersitannya tersebut.

Nabi Ayyub ‘alaihissalam agak teledor dalam mengingkari kemungkaran seorang raja zalim lantaran kawanan kudanya yang ada di tempatnya, maka beliau pun diuji dengan ujian yang telah ditimpakan kepadanya.

Nabi Yunus ‘alaihissalam meninggalkan kaumnya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu beliau pun ditelan oleh ikan hiu.

Walau periwayatan kisah-kisah ini bersumber dari israiliyat, tetapi setidaknya kisah-kisah ini menggambarkan tentang balasan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada para nabi. Padahal, jika ditimbang, ‘dosa-dosa’ yang mereka perbuat adalah sesuatu yang sangat remeh di mata manusia zaman sekarang.

Dulu ada seorang ‘abid (ahli ibadah) menatap seorang pria yang tampan. Gurunya yang mengetahuinya langsung menghardiknya, “mengapa kamu menatapnya seperti itu? Kamu pasti akan menuai akibatnya.” Ternyata 40 tahun kemudian hafalan Qur’annya hilang.

Lain lagi cerita hukuman atas suatu dosa yang dikisahkan oleh seorang alim, beliau mengisahkan, “Dulu, aku pernah menghina seseorang yang telah rontok giginya. Maka beberapa waktu berlalu, gigi-gigiku rontok semua. Dan aku pernah menatap seorang wanita yang tak halal kupandang, lalu istriku pun dipandang oleh seseorang yang tidak kusukai.”

Ada juga kisah bapak yang durhaka. Dulu seorang anak durhaka memukul dan menyeret bapaknya ke suatu tempat, tiba-tiba sang bapak berteriak, “cukup sampai di sini, karena dulu aku menyeret bapakku (kakekmu) hanya sampai di tempat ini.”

Kisah dosa berbalas kontan yang menakjubkan adalah kejadian yang diceritakan langsung oleh Perdana Menteri Ibnu Hashir yang terjuluk an-Nadzam. Ia bercerita;

“Khalifah al-Muqtafi marah kepadaku dan menyuruhku membayar denda sebanyak 10.000 Dinar. Dan tahukah kalian kenapa demikian? Karena beberapa hari sebelumnya aku mendzalimi seseorang dan menyuruhnya membayar denda sebanyak 3.000 Dinar. Ternyata denda atasku dari Khalifah lebih banyak. Sesudah aku membayar denda 3.000 Dinar, Khalifah membebaskanku dari penjara dan memaafkan sisa denda yang belum aku bayar.”

Oleh karenanya, hendaklah seseorang wajib mewaspadai dosa, karena ia sangat mungkin akan mendapatkan balasannya sesegera mungkin. Walaupun sudah bertobat, hendaklah ia tetap bersungguh-sungguh mewaspadainya, karena dosa selalu menyisakan bekas.

*Dikutip dari Dosa Berbalas Kontan, Majalah An-Najah edisi November 2013