Segudang Pahala untuk Ibunda

ImageAmy Syifa – Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan mentereng dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benarkah seperti itu?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi, sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrahnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah. Hingga tak heran jika seorang ibu rumah tangga ditanya, “sekarang kerja di mana?” ia akan menjawab dengan suara lirih dan kepala tertunduk, ”Cuma di rumah, jadi ibu rumah tangga.” Atau bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan.

Malu Jadi Ibu Rumah Tangga?

Rasa malu, minder yang menghinggapi sebagian wanita, apalagi yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, tidak lepas dari pandangan masyarakat. Selama ini masyarakat menganggap wanita yang berkarir dan punya kedudukan, lebih terhormat daripada wanita yang hanya di rumah mengabdikan dirinya untuk keluarga. Bahkan orang akan menganggap aneh, bila ada wanita bercita-cita tetap tinggal di rumah. Mereka menganggap mubadzir pendidikan yang ditempuhnya selama ini. Seperti yang dialami oleh salah seorang kawan penulis yang rela melepas S2 nya untuk menjadi ibu rumah tangga. Kebanyakan tetangga berkomentar, “apa nggak sayang mbak dengan ijazahnya, anak kan bisa dititipkan?” namun dengan suara mantap ia menjawab, “anak adalah aset terbesar saya, saya tidak mau kehilangan masa-masa emas bersama mereka.” Subhanallah….

Pahala Buat Ibunda

Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunah kepada para Shahabatnya, datanglah seorang shahabiyah, Asma’ binti Yazid bin Sakan yang menjadi duta dari para shahabiyah di belakangnya. Dia bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan, dan semuanya berpendapat sebagaimana yang aku utarakan.”

Kemudian ia melanjutkan, “Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada semua kaum laki-laki dan kaum wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan kepada Rabbmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat mereka menyalurkan syahwatnya. Kami pula yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum laki-laki mendapatkan keutamaan melebihi kami dengan shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Lantas, apakah kami, kaum wanita, juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Dengan wajah tersenyum Rasulullah  menjawab, “kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu; bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami; itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Subhanallah, jawaban yang sejuk dan menentramkan. Mengobati semua kegundahan para wanita, yang iri dengan berbagai pahala yang diperoleh kaum pria.

Rumah, Istana Kaum Wanita

Allah Ta’ala berfiman:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu. Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu…,” (Qs. Al-Ahzab:33)

Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa rumah adalah tempat yang terhormat bagi wanita, tempat terbaik bagi mereka untuk mengaktualisasikan diri. Bebas dari segala gangguan dan kemudharatan yang membahayakan keselamatan jiwa dan agamanya. Dari rumah, mereka bisa mencetak generasi-generasi Islam yang tangguh yang akan menjadi pondasi tegaknya suatu bangsa.

Meski demikian bukan berarti wanita tidak boleh beraktifitas di luar rumah. Wanita boleh bekerja di luar rumah, khususnya pada bidang-bidang sosial yang membutuhkan sentuhan wanita, misalnya menjadi tenaga medis atau pendidik. Yang menjadi permasalahan, bagaimana wanita bisa memposisikan diri. Tidak asal berkarir, apalagi kalau hanya menuruti kemauan dan trend yang ada pada masyarakat, tanpa mempertimbangkan sisi syar’i seperti mendapat ijin dari suami, tidak bercampur antara pria dan wanita, aman bagi keselamatan dan kehormatan wanita, menutup aurat, dan terjaminnya wanita untuk melaksanakan kewajiban agama. Karena Rasulullah pun mengizinkan mereka keluar jika ada kebutuhan; “Kalian telah diizinkan keluar untuk memenuhi kebutuhan kalian.” (HR. Bukhari)

Ibu, Pendidik Pertama

Rasulullah  bersabda, “Dan wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai yang diurusinya.” (HR. Bukhari)

Hadits di atas menyebutkan tentang kewajiban seorang ibu, yaitu mengurus rumah dan mendidik anak-anak bersama suaminya. Seorang ibu hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Mengajari mereka aqidah yang benar, akhlaq yang mulia dan adab yang baik serta ilmu-ilmu bermanfaat.

Anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat. Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan dari Allah  . Di dunia, balasan bakti mereka kepada kita. Dan di akhirat, pahala jannah yang memiliki delapan pintu, dipersilakan masuk dari mana kita menginginkannya.

Maka tak sepantasnya rasa malu dan minder menghinggapi para ibu rumah tangga karena Allah telah menjamin pahala yang besar untuk mengganti kelelahannya.

Lantas, masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? Dengan tertunduk dan suara lirih karena malu? Wallahul Musta’an.

*Dikutip dari Majalah Ar Risalah edisi Juli 2012