MEDIA SOSIAL & REVOLUSI

socmed

Anda masih ingat nama Muhammad Al Durrah. Anak Palestina berumur 12 tahun tersebut ditembak mati tentara Israel saat bersembunyi di belakang ayahnya pada bulan September 2000. Adegan pembunuhan tersebut terekam dengan jelas detik demi detik oleh koresponden TV France 2, Charles Enderlin. Dengan seketika, peristiwa tersebut tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dunia Islam gempar melihat brutalitas Israel terhadap anak Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Kejadian ini mengakibatkan kemarahan kaum muslimin di seluruh dunia. Demonstrasi terjadi di berbagai Negara mengutuk kekejian Israel terhadap anak-anak Palestina. Yordan pun mengabadikan peristiwa tersebut dalam perangko resmi Negara.

Media memiliki peran penting dalam pertarungan ideology. Musuh-musuh Islam tidak hanya melancarkan perang fisik terhadap kaum Muslimin, mereka juga melancarkan perang melalui media. Mereka menyebarkan propaganda untuk menyesatkan opini masyarakat dalam rangka mendiskreditkan Islam dan kaum Muslim, terkhusus yang terkait gerakan Jihad. Tak heran jika Amerika harus mengeluarkan biaya yang besar untuk propaganda tersebut.

Amerika sering menggambarkan Taliban sebagai kelompok ekstrimis, fanatis, kolot dan tradisional yang kejam. Begitu pula dengan Al Qaeda dan kelompok-kelompok jihad lain yang dituduh sebagai kelompok teroris. Sementara ratusan ribu korban atas invansi Amerika ke Irak, Afghanistan tidak pernah terekspos dengan baik. Sehingga, kesan Amerika sebagai penyelamat dari kediktatoran Irak, Libya dan Afghanistan. Ini tentu membalikkan fakta penderitaan dan ketakutan yang dialami masyarakat di Irak, Libya dan Afghanistan. Di sinilah peran media dalam membalikkan fakta yang terjadi di lapangan.

Informasi yang tidak tersekat oleh waktu dan tempat hari ini ternyata efektif untuk melancarkan peperangan itu sendiri. Peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia dapat dilihat saat itu juga. Globalisasi informasi menjadi dunia seperti sebuah dusun kecil yang saling kait mengait. Salah satu contoh adalah revolusi Timur Tengah. Revolusi di Timur Tengah juga tidak lepas dari peran media. Media sosial (Blog, Facebook & Twitter) menunjukkan pengaruhnya dalam Revolusi Timur Tengah. Baik yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya maupun Suriah.

Di Tunisia dan Mesir, gerakan massa digalang melalui jejaring sosial. Mereka menggemakan opini perubahan atau ide pelengseran Presiden Zainal Abidin bin Ali di Tunisia dan Presiden Hosni Mubarak di Mesir. Matangnya gerakan massa tersebut bermula dari informasi mengenai kepincangan sosial dan ide perubahan. Ide perubahan ini mengucur deras mulai dari SMS di Ponsel, Blog, akun Facebook, dan dari akun Twitter. Dari berbagai saluran jejaring sosial ini membentuk sebuah kesadaran kolektif untuk melakukan sebuah gerakan perubahan dari mulai sebuah gerakan reformasi sampai sebuah gerakan revolusi penumbangan kekuasaan diktator.

Para analis menyebut situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai alat persuasi, diseminasi, sekaligus konsolidasi kekuatan para demonstran. Akibatnya Presiden Zainal Abidin bin Ali di Tunisia dan Presiden Hosni Mubarak di Mesir terjungkal. Sementara Muammar Khadafi harus mengalami kematian yang tragis setelah pelengserannya.

Media memiliki peran penting dalam pertarungan ideology. Musuh-musuh Islam tidak hanya melancarkan perang fisik terhadap kaum Muslimin, mereka juga melancarkan perang melalui media. Mereka menyebarkan propaganda untuk menyesatkan opini masyarakat dalam rangka mendiskreditkan Islam dan kaum Muslim, terkhusus yang terkait gerakan Jihad.

Banyak yang menyebut, pelibatan media sosial dalam gerakan revolusi merupakan revolusi generasi ketiga itu sendiri. Generasi pertama banyak memanfaatkan kekuatan face-to-face informal. Generasi kedua bersandar pada penguasaan media-media mainstream seperti televisi, koran, radio, majalah, dan lain-lain sehingga memunculkan adagium “siapa menguasai media maka akan menguasai dunia”. Generasi ketiga pada kekuatan interaktivitas dan basis multimedia yang memungkinkan orang saling bertautan tanpa harus bertemu secara fisik sebelumnya.

Dalam banyak catatan sejarah, optimalnya sebuah gerakan revolusi biasanya karena ada musuh bersama. Sejarah mencatat, nama-nama seperti Ferdinand E Marcos (Filipina), Mobutu Sese Seko (RD Kongo), Manuel Antonio Noriega (Panama), dan Olusegun Obasanjo (Nigeria), Soeharto (Indonesia), Hosni Mubarak (Mesir), Bin Ali (Tunisia) telah sukses menjadi simbol musuh bersama di negaranya masing-masing. Selain itu, adanya massifikasi isu yang disebar melalui berbagai saluran media massa.

Di Indonesia, pemberitaan berbagai kepincangan sosial juga mampu menggerakkan emosi massa untuk melawan ketidakadilan penguasa. Kasus Prita Mulyasari menjadi titik poin gerakan massa yang berasal dari media sosial. Emosi massa tergoncang ketika melihat perlakuan ketidakadilan penguasa. Massa bergerak dengan memberikan dukungan. Dari dukungan media sosial menjadi aksi nyata dengan pengumpulan koin untuk Prita.

Kasus yang lain, perseteruan antara Polri dan KPK juga melahirkan dukungan massa yang meluas, baik cicak lawan buaya pertama maupun kedua. Gerakan massa secara spontan terjadi akibat pemberitaan tentang kesewenang-wenangan Polri terhadap KPK. Gerakan ini tumbuh dan berkembang menjadi aksi yang massif. Di berbagai tempat terjadi demonstrasi dukungan terhadap KPK.

Dalam banyak kasus, baik secara nasional maupun internasional, media menjadi senjata ampuh melawan berbagai kediktatoran dan kesewenang-wenangan. Membawa emosi massa terhadap kepincangan tersebut melahirkan gerakan yang massif secara cepat dan meluas. Revolusi dan perubahan sosial bisa berasal dari media sosial ini. Sekarang, sudahkan anda menjadikan media sebagai medan pertempuran baru?

Sumber : Majalah An Najah edisi November 2012 – Media Sosial & Revolusi