Lalu Siapa Yang Lebih Berakhlak?

Image

Underground Tauhid – Masih ingat ketika jilbab di Negri ini dilarang? Sangat susah bagi muslimah untuk memakainya baik ketika ke sekolah, ke pasar atau ke tempat- tempat umum. Ada saja yang mengejar muslimah kita waktu itu, mereka dipaksa untuk melepaskan kerudungnya, entah kenapa mereka begitu fobia terhadap pakaian taqwa yang jelas- jelas diperintahkan Alloh ini, padahal mereka muslim. Hari berganti hari…dalam waktu beberapa tahun sesudahnya jilbab tiba- tiba menjadi trend nasional, bahkan sekolah- sekolah negripun membolehkan siswinya untuk berkerudung. Alhamdulillah sebuah keadaan yang sangat kita banggakan di Negri ini.

Kini, di belahan bumi yang lain. Seperti di Prancis jilbab masih menjadi ancaman, mereka menganggap jilbab bagian dari ajaran teroris dan tidak sesuai dengan kebudayaan Barat. Saudara- saudara kita disana sedang memperjuangkan hak kebebasan mereka, mereka tidak takut karena dianggap teroris, mereka pantang menanggalkannya walaupun nyawa taruhannya, walaupun ada sebagian mereka yang ditangkap dan dipenjarakan. Tapi lihatlah…mereka tetap tegar, bersabar atas ujian yang datang. Mereka lalui dengan suka cita hanya berharap Rahmat-Nya.

Kembali ke negri kita tercinta. Disini tak lagi ada larangan memakai jilbab, walau ada beberapa instansi yang tidak membolehkan karyawannya berjilbab, tapi kita masih bebas memakainya kemana saja dan kapan saja. Cadar juga sudah banyak kita temukan disetiap tempat, sudah menjadi pemandangan umum di kota- kota besar. Walaupun sering kita dengar orang melontarkan kata- kata seperti islam radikal, fundamental dan sejenisnya. Tapi tidak ada perlawan fisik kepada muslimah kita.

Namun, ternyata ada segelintir eh.. bahkan sudah merebak. Mereka memanfaatkan jilbab dan cadar ini untuk aksi kejahatan,. Mereka pergi ke mall- mall bukan untuk belanja tapi untuk mencuri, merampok. Mereka pergi kepasar untuk mengutil barang dagangan orang, mereka ada di barisan pejabat, karyawan bank tapi untuk korupsi, mereka mengumpulkan anak- anak kecil dengan alasan untuk dibina, tapi mereka turunkan anak- anak itu kejalan- jalan untuk mencri uang dari mengemis dan mengamen demi mengisi perut mereka dan keluarga, mereka memakai jilbab tapi asyik berzina tanpa ada rasa sesal dan malu.

Fenomena itu membuat sebagian kalangan menjadi tidak yakin dengan jilbab. Dengan alasan bahwa mereka yang memakai jilbab belum tentu hatinya baik, belum tentu seorang yang solekhah, belum tentu akhlaknya mulia karena nyatanya banyak yang bermaksiat. Mereka menolak jilbab dengan mengatakan lebih baik menjilbabi hati agar berakhlak baik, daripada berjilbab tapi tidak berakhlak. Nau’dzubillah

Ada lagi gejala akhwat galau, mereka berkerudung, tapi pakaian mereka seksi, katanya biar gaul, ga ndeso. Berpegangan tangan dengan lawan jenis yang bukan mahrom menjadi hal yang biasa mereka lakukan dengan alasan ” kita pacarannya syar’i kok, hanya pegangan tangan ga cium- ciuman dan lainya”. Mereka masih suka berkumpul dengan kelekar tawa yang tidak ada kontrol, nonton ke bioskop bersama teman- temanya, laki-laki dan perempuan. Kadang jika dinasehati celetukan mereka adalah “ tuh yang pake jilbab lebar aja pada suka ngobrol dengan lawan jenis, sesekali mereka juga bercanda, ada juga yang diam- diam pacaran, lalu apa bedanya dengan kami, mereka lebih faham agama dari kami loh padahal”.
Kalau seperti itu apa jawaban kita. Lalu siapakah yang harusnya menjadi tauladan untuk kaum perempuan? Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini?

Mari kita tunjukkan kecintaan kita kepada Alloh dengan mentaati semua perintahnya, setiap diri kita adalah da’i yang wajib menyampaikan kepada umat apa yang kita ketahui walaupun hanya satu ayat. Berdakwahlah untuk diri kita sendiri..lihatlah kedalam diri kita apakah kita seorang akhwat yang menjunjung tingi kehormatan perempuan (iffah)? Apakah pergaulan kita sudah benar menurut syariat islam? Apakah kita sudah bisa menjaga diri baik didunia nyata maupun didunia maya? Laki- laki tetaplah laki dimanapun dia berada, didalam fb maupun didalam kehidupan nyata, jagalah diri kita dari ikhtilat..tertawa terkekeh lewat icon, bercandaan kita dengan mereka yang terumbar. Semua itu berdampak ke generasi selanjutnya, berdampak ke anak- anak kita. Karena seorang anak akan tumbuh sesuai dengan akhlak orang tuanya.

Terimakasih atas kritik yang disampaikan mereka ke kita, semoga hati mereka terbuka dengan hidayah Alloh ketika kita menerima kritikan itu dengan baik dan melakukan koreksi diri kedalam diri kita. Dan mulai memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin

( hasil dari kritikan teman, untuk siapa saja yang merasa. Dan diri inipun merasa, semoga ia mendapat hidayah dari Alloh karena ia belum berjilbab, baru berkerudung. Aamiin ^^)

Oleh : Iqtina Khansa

Read more http://www.undergroundtauhid.com/lalu-siapa-yang-lebih-berakhlak/