GOOD MOTHER

Image

Umar bin Khattab ra, berkata, “ Hak anak yang pertama adalah, mendapatkan ibu yang sesuai dengan pilihannya. Ia berhak memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang memiliki kecantikan, kemuliaan, ad dien, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak terpuji, mempunyai mentalitas yang baik dan mematuhi suaminya dalam segala keadaan” (Abul Hasan Al Mawardi, Kitab Nasihat Al Muluk)

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Mendambakan kasih sayang utuh. Karena kasih sayang menjadikannya mampu bertahan dari luka dukanya kehidupan.

Curahan ASI penuh selama dua tahun, dalam dekap tulus ibunya. Sejak terlahir, orang tua, terutama ibu selalu ada untuknya. Menyertai senyum dan tawa, memandikan dan menimang, membelai dan mendoakan, kasih sepanjang jalan. Dari orang tua terutama ibunya, bukan yang lain. Lebih dari ibunya. Karena ia terlahir dari rahimnya, amanah yang Allah SWT berikan, kepercayaan, bahwa orang tua terutama ibu yang terpilih akan mampu mengawalnya dengan baik. Dan benar. Dan mempertanggungjawabkan amanahnya itu juga dengan baik. Dan benar!

Kriteria ibu, yang dijelaskan oleh Umar ra.

Cantik. Kecantikan selalu menjadi pilihan awal. Pandangan pertama yang menyisakan bayangan. Naluri manusiawi. Melenakan bahkan mampu membutakan. Kebanggaan yang menjadikan seseorang lupa bahwa semua itu adalah pemberian dari Sang Maha Kuasa.

“Alhamdulillahilladzii kamaa hasanta kholqii fa ahsin khuluqii….” Ia akan mengambilnya.

Cantik tanpa diimbangi dengan kemuliaan diri, tak akan menciptakan rasa nyaman. Kemuliaan diri bagi Ilahi adalah taqwa. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antaramu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Pilihan mentaati segala titahNya dan menghindari laranganNya menjadi bukti ad dien telah bersemayam di hati. Kesucian jiwa dan raga, akhlak baik dan ketaatan pada suami –selama syar’i masih mengizinkan-adalah amal nyata yang terjaga hingga radhiyallahu anhu wa rodhuu anhu.

Ibu haruslah seorang yang piawai. Berpendidikan tinggi dan mulia. Karena ia akan melahirkan, mendidik, membimbing, mengatur buah hati amanah Allah SWT. Sendiri. Tak kan rela ia menyerahkan anak amanah Allah kepada pengasuh yang pendidikannya lebih rendah darinya, tak kan ia lepaskan anak amanah Allah, hingga anak lebih lekat pada yang lain. Bukan dirinya!

Tak kan rela ia menyerahkan anak amanah Allah kepada pengasuh yang pendidikannya lebih rendah darinya, tak kan ia lepaskan anak amanah Allah, hingga anak lebih lekat pada yang lain. Bukan dirinya!

Tanggung jawablah yang terbayang. Suatu ketika Allah akan menanyakan, “apa yang kamu lakukan terhadap anak amanah dariKU?” ia telah siap.

Do’a terlantun kepadaNya selalu,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِين

“Ya Robbii, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau limpahkan padaku dan pada ibu bapakku, supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Kau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Wallahu a’lam bishowwab.

Sumber : Majalah An Najah edisi November 2012 – Good Mother